Menyelami Samudra Kerinduan dalam Munajat di Penghujung Ramadan
Majelis.info Aswaja – Malam-malam terakhir Ramadan adalah puncak dari perjalanan spiritual seorang hamba. Di saat-saat mustajab ini, lisan para kekasih Allah basah oleh munajat, hati mereka luluh dalam kerinduan, dan jiwa mereka terbang menuju hadirat Ilahi. Salah satu untaian doa yang menggugah jiwa datang dari lisan al-Allamah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, seorang ulama besar dari Hadhramaut, Yaman. Dalam salah satu doa qunutnya, beliau menyingkap tabir kerinduan terdalam seorang hamba: merasakan manisnya cinta dari Sang Maha Pengasih (Ar-Rahman).
Doa ini bukan sekadar permintaan ampunan atau surga, melainkan sebuah rintihan tulus untuk meraih tingkatan tertinggi, yaitu dicintai oleh Allah SWT. Doa ini mengajarkan kita tentang hakikat penghambaan, di mana puncak kenikmatan adalah merasakan kedekatan dan kasih sayang-Nya.
Tangan-Tangan yang Tertadah: Puncak Pengakuan akan Kelemahan
Habib Umar memulai munajatnya dengan sebuah pengakuan yang mendalam akan posisi hamba di hadapan Rabb-nya. Beliau melukiskan gambaran yang sangat menyentuh tentang ketergantungan mutlak makhluk kepada Sang Khaliq. Beliau bermunajat:
أَيْدِي الْفُقَرَاءِ امْتَدَّتْ إِلَيْكَ يَا غَنِيُّ، أَيْدِي الضُّعَفَاءِ امْتَدَّتْ إِلَيْكَ يَا قَوِيُّ، أَيْدِي الْمَسَاكِينِ امْتَدَّتْ إِلَيْكَ يَا مُنْعِمُ، أَيْدِي الْعِبَادِ امْتَدَّتْ إِلَيْكَ يَا رَبُّ، فَامْلَأْ أَيْدِينَا مِنْ نَوَالِكَ، وَفِّرْ حَظَّنَا مِنْ جَزِيلِ إِفْضَالِكَ.
“Tangan-tangan kaum fakir telah terulur kepada-Mu, wahai Yang Maha Kaya. Tangan-tangan kaum yang lemah telah terulur kepada-Mu, wahai Yang Maha Kuat. Tangan-tangan kaum miskin telah terulur kepada-Mu, wahai Yang Maha Pemberi Nikmat. Tangan-tangan para hamba telah terulur kepada-Mu, wahai Rabb, maka penuhilah tangan-tangan kami dari anugerah-Mu, dan sempurnakanlah bagian kami dari kelimpahan karunia-Mu.”
Ungkapan ini adalah esensi dari iftiqar, perasaan butuh sepenuhnya kepada Allah. Habib Umar seolah mewakili seluruh umat manusia dalam segala kelemahannya—fakir di hadapan Yang Maha Kaya, lemah di hadapan Yang Maha Kuat, dan miskin di hadapan Yang Maha Memberi. Mengulurkan tangan adalah simbol kepasrahan total, mengakui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Ini adalah adab pertama dan terpenting dalam berdoa: menanggalkan jubah kesombongan dan mengenakan pakaian kehinaan di hadapan-Nya.
Permintaan Tertinggi: Merasakan Manisnya Cinta (Wudd) dari Allah
Setelah meletakkan dasar kehambaan, doa ini naik ke tingkat permohonan yang paling agung. Bukan sekadar meminta dunia atau akhirat, melainkan meminta untuk dapat merasakan cinta-Nya secara langsung. Ini adalah maqam para ‘arifin, orang-orang yang mengenal Allah.
أَذِقْنَا لَذَّةَ مَوَدَّتِكَ، يَا مَنْ قُلْتَ (إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا)، افْتَحْ لَنَا بَابَ وِدَادِكَ، افْتَحْ لَنَا بَابَ وِدَادِكَ، افْتَحْ لَنَا بَابَ وِدَادِكَ، وَأَذِقْنَا لَذَّةَ وُدِّكَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ.
“Rasakanlah kepada kami lezatnya cinta-Mu, wahai Dzat yang berfirman (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (wudd)) [QS. Maryam: 96]. Bukakanlah untuk kami pintu cinta-Mu, bukakanlah untuk kami pintu cinta-Mu, bukakanlah untuk kami pintu cinta-Mu, dan izinkan kami merasakan lezatnya cinta-Mu di kehidupan ini.”
Kata ‘wudd’ dalam Al-Qur’an memiliki makna cinta yang istimewa, hangat, dan penuh kasih sayang. Inilah cinta yang Allah tanamkan di hati hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, dan juga cinta yang Allah berikan kepada mereka. Permintaan untuk “merasakan” (adziqna) menunjukkan bahwa ini adalah pengalaman spiritual yang dirasakan oleh hati, bukan sekadar konsep teoretis. Ketika seorang hamba telah merasakan manisnya wudd, ibadahnya tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai sebuah kenikmatan dan kerinduan untuk berjumpa dengan Sang Kekasih.
Meminta karena Kemurahan-Nya, Bukan karena Kelayakan Diri
Selanjutnya, Habib Umar menuntun kita untuk menyadari bahwa segala permohonan ini didasarkan pada kemurahan Allah, bukan karena kita pantas menerimanya. Kesadaran ini menjauhkan kita dari sifat ujub (bangga diri) atas ibadah yang kita lakukan.
وَعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ، لَوْ كُنْتَ لَا تُسْأَلُ إِلَّا مَا يَسْتَحِقُّهُ عِبَادُكَ مَا اسْتَطَعْنَا سُؤَالَكَ، وَلَكِنَّكَ بِالْكَرَمِ وَفَّقْتَ فَأَمْدَدْتَ أَيْدِينَا إِلَيْكَ، فَأَعْزَزْتَهَا بِذَلِكَ وَلَمْ تُذِلَّهَا بِالْمَدِّ إِلَى مَنْ سِوَاكَ.
“Demi Keagungan dan Kemuliaan-Mu, andai Engkau hanya diminta sesuai dengan apa yang layak diterima hamba-Mu, niscaya kami tak akan sanggup meminta kepada-Mu. Akan tetapi, dengan kemurahan-Mu Engkau beri kami taufik, sehingga kami dapat menengadahkan tangan kami kepada-Mu. Engkau muliakan tangan-tangan ini dengan menadah kepada-Mu, dan tidak Engkau hinakan dengan meminta kepada selain-Mu.”
Ini adalah pengakuan yang luar biasa. Kemampuan kita untuk berdoa dan meminta kepada Allah itu sendiri adalah taufik dan karunia dari-Nya. Allah memuliakan kita dengan mengizinkan kita meminta langsung kepada-Nya, Raja segala Raja, tanpa perantara. Ini adalah kemuliaan yang tiada tara, yang seharusnya membuat kita semakin bersyukur dan rendah hati.
Menjadi Hamba yang Tidak Tuli dan Buta terhadap Ayat-Nya
Doa ini mencapai puncaknya dengan permohonan agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang sejati (‘Ibadurrahman), yang mampu menyerap dan meresapi petunjuk-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam referensi doa-doa qunut beliau, salah satu tema yang diangkat adalah sifat ‘Ibadurrahman dalam Surah Al-Furqan ayat 73. Doa ini merefleksikan makna ayat tersebut:
اللَّهُمَّ… وَاجْعَلْ لَنَا وَاسِعَ سَمَاعٍ عِنْدَ الْآيَاتِ وَبَيَانِ خَيْرِ الْبَرِيَّاتِ، وَاجْعَلْ لَنَا بَصَرًا ثَاقِبًا أَمَامَ الْآيَاتِ وَبَلَاغَاتِ خَيْرِ الْبَرِيَّاتِ، وَمَكِّنَّا فِي ذَلِكَ، ارْزُقْنَا التَّمْكِينَ فِي ذَلِكَ، سَالِكِينَ أَشْرَفَ الْمَسَالِكِ يَا الله.
“Ya Allah… Jadikanlah bagi kami pendengaran yang luas (lapang) ketika mendengar ayat-ayat-Mu dan penjelasan dari sebaik-baik makhluk (Nabi Muhammad ﷺ). Jadikanlah bagi kami penglihatan yang tajam di hadapan ayat-ayat-Mu dan risalah dari sebaik-baik makhluk. Dan berilah kami kemapanan (tamkin) dalam hal itu, anugerahkan kami kemapanan di dalamnya, meniti jalan yang paling mulia, ya Allah.”
Ini adalah permohonan agar hati dan akal kita terbuka lebar untuk menerima cahaya Al-Qur’an dan Sunnah, tidak menjadi orang yang tuli dan buta ketika ayat-ayat Allah dibacakan. Kita memohon tamkin, yaitu keteguhan dan kemapanan dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan petunjuk ilahi tersebut.
Doa qunut Habib Umar bin Hafidz ini adalah sebuah kurikulum spiritual yang lengkap. Ia mengajarkan kita adab, menuntun kita pada cita-cita ruhani tertinggi, dan mengingatkan kita akan hakikat diri sebagai hamba yang senantiasa bergantung pada karunia dan rahmat-Nya. Semoga di sisa waktu Ramadan yang mulia ini, Allah SWT membukakan untuk kita pintu cinta-Nya dan mengizinkan kita merasakan sekelumit dari lezatnya wudd dari-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Sumber rujukan: https://omr.to/duaa